Berbelit-Belit, Kalapas Kelas IIB Empat Lawang Diduga Sengaja Menghindari Konfirmasi Jurnalis
EMPAT LAWANG, SUMATERA SELATAN — Upaya awak media Indo Ekspres melakukan konfirmasi resmi terkait sejumlah dugaan pelanggaran serius di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Empat Lawang justru menemui pola jawaban yang berbelit‑belit dan terkesan sengaja dielakkan oleh pimpinan lembaga tersebut.
Hal‑hal yang hendak dikonfirmasi menyangkut poin‑poin krusial yang bertentangan dengan aturan pemasyarakatan: penggunaan telepon genggam berbayar oleh warga binaan, praktik pemungutan biaya air bersih yang dianggap tidak wajar, serta penyediaan fasilitas istimewa berbayar yang dikenal masyarakat luas sebagai “Kamar VIV”. Selain itu, terindikasi pula adanya aliran uang tunai yang bergerak masuk ke dalam lingkungan blok hunian narapidana dengan mekanisme yang tidak transparan.
Kebebasan memegang dan menggunakan perangkat komunikasi tersebut dinilai sangat berisiko tinggi membuka celah bagi aktivitas melawan hukum, mulai dari penipuan melalui media sosial, pemerasan jarak jauh, hingga transaksi gelap dan peredaran barang atau obat‑obatan terlarang yang sulit dikendalikan petugas pengawas.
Kronologi: Dua Kali Berjanji, Jawaban Berubah‑Ubah
Langkah awal upaya konfirmasi dilakukan pada Kamis, 27 Agustus 2026. Saat tiba di Lapas dan menyerahkan identitas, awak media hanya mendapatkan jawaban singkat bahwa Kalapas tidak dapat ditemui pada hari itu dan diminta untuk hadir kembali keesokan harinya.
Keesokan harinya, Jumat, 28 Agustus 2026, awak media kembali hadir tepat sesuai kesepakatan. Setelah melapor kembali kepada petugas jaga dan menunggu sejenak, pihak penjagaan menyebut pimpinan sedang melaksanakan apel dan memohon kelapangan waktu. Namun setelah menunggu lebih lama, pernyataan berubah drastis secara mencolok: disampaikan bahwa Kalapas tidak berada di tempat dan sedang menjalani kegiatan dinas ke Palembang.
Ketika awak media menegaskan ketidakselarasan jawaban tersebut—yang semula menyatakan beliau ada di lingkungan kantor—petugas kembali menyusun alasan baru: “Maksud saya tadi beliau berada di rumah dinas, saya mengira akan segera berjalan masuk ke ruang kantor.”
Saat hendak meninggalkan lokasi karena merasa tidak mendapatkan kejelasan, petugas menghubungkan awak media dengan pihak Humas yang menyebut dirinya R. Dalam percakapan tersebut, Humas justru mengakui kelemahan sistem pengendalian di tempat:
“Terkait penggunaan HP, sebenarnya sudah dipasang dua unit jammer alat pengacak sinyal. Namun memang kenyataannya masih ada celah dan kecolongan yang terjadi di beberapa titik yang sulit diawasi terus‑menerus.”
Pihak Humas kemudian meminta pertukaran nomor kontak WhatsApp yang memungkinkan dapat menjawab pertanyaan secara tertulis, namun Kalapas menyampaikan pesan agar awak media kembali bertemu pada Senin, 31 Agustus, meski rangkaian alasan yang disampaikan sebelumnya sudah menimbulkan keraguan mendalam mengenai ketulusan niat untuk berdialog terbuka.
Indikasi Fasilitas Berbeda Hingga Komunikasi Bebas
Selain pengamatan langsung di lokasi, redaksi juga menerima informasi dan jejak terpercaya dari lingkungan yang mengetahui kondisi di tempat tersebut. Terungkap adanya praktik perbedaan perlakuan yang berhubungan dengan kemampuan membayar biaya tambahan, serta fakta bahwa terjalin hubungan komunikasi yang lancar dan langsung antar warga binaan dengan pihak di luar lingkungan penjara.
Informasi‑informasi tersebut saling menguatkan dugaan bahwa apa yang terlihat secara resmi di permukaan belum menggambarkan keadaan yang sebenarnya berlangsung di balik tembok penjara dan ruang‑ruang yang tertutup pengawasan publik.
Pola Penghindaran Makin Memperkuat Kecurigaan
Hingga berita ini disusun dan disebarluaskan, belum ada tanggapan rinci, klarifikasi tertulis, maupun pertemuan yang terlaksana sebagaimana dijanjikan dari pihak pimpinan Lapas Kelas IIB Empat Lawang terhadap seluruh daftar pertanyaan yang telah disampaikan awak media secara terang dan bertahap.
Pola jawaban yang berubah‑ubah, penundaan tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, serta sikap yang cenderung menutup pintu bagi pemeriksaan fakta dari luar justru melahirkan anggapan yang makin dalam di mata masyarakat luas: bahwa tersembunyi hal‑hal yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara terang dan karenanya sengaja dilindungi dari sorotan publik.
Awak media menegaskan bahwa pintu tanggapan, pembelaan, maupun klarifikasi yang seimbang dan berkeadilan tetap terbuka seluas‑luasnya bagi pihak Lapas maupun instansi pembina di atasnya guna melengkapi informasi berita ini. Tim Indo Ekspres akan terus memantau dan menelusuri perkembangan kasus ini demi kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
Laporan: Jurnalis Indo Ekspres
Empat Lawang, Sumatera Selatan